Oleh: smpplusdarussurur | 02/10/2013

Artikel

SEPOTONG ROTI PENEBUS DOSA

Abu Burdah bin Musa Al-Asy’ari meriwayatkan, bahwa ketika menjelang wafatnya Abu Musa pernah berkata kepada puteranya: “Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seseorang yang mempunyai sepotong roti.”
Dahulu kala di sebuah tempat ibadah ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah. Ibadah yang dilakukannya itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun. Tempat ibadahnya tidak pernah ditinggalkannya, kecuali pada hari-hari yang telah dia tentukan. Akan tetapi pada suatu hari, dia digoda oleh seorang wanita sehingga diapun tergoda dalam bujuk rayunya dan bergelimang di dalam dosa selama tujuh hari sebagaimana perkara yang dilakukan oleh pasangan suami-isteri. Setelah ia sadar, maka ia lalu bertaubat, sedangkan tempat ibadahnya itu ditinggalkannya, kemudian ia melangkahkan kakinya pergi mengembara sambil disertai dengan mengerjakan solat dan bersujud.

Akhirnya dalam pengembaraannya itu ia sampai ke sebuah pondok yang di dalamnya sudah terdapat dua belas orang fakir miskin, sedangkan lelaki itu juga bermaksud untuk menumpang bermalam di sana, karena sudah sangat letih dari sebuah perjalanan yang sangat jauh, sehingga akhirnya dia tertidur bersama dengan lelaki fakir miskin dalam pondok itu. Rupanya di samping kedai tersebut hidup seorang pendita yang ada setiap malamnya selalu mengirimkan beberapa buku roti kepada fakir miskin yang menginap di pondok itu dengan masing-masingnya mendapat sebuku roti.

Pada waktu yang lain, datang pula orang lain yang membagi-bagikan roti kepada setiap fakir miskin yang berada di pondok tersebut, begitu juga dengan lelaki yang sedang bertaubat kepada Allah itu juga mendapat bahagian, karena disangka sebagai orang miskin. Rupanya salah seorang di antara orang miskin itu ada yang tidak mendapat bahagian dari orang yang membahagikan roti tersebut, sehingga kepada orang yang membahagikan roti itu ia berkata: “Mengapa kamu tidak memberikan roti itu kepadaku.” Orang yang membagikan roti itu menjawab: “Kamu dapat melihat sendiri, roti yang aku bagikan semuanya telah habis, dan aku tidak membagikan kepada mereka lebih dari satu buku roti.” Mendengar ungkapan dari orang yang membagikan roti tersebut, maka lelaki yang sedang bertaubat itu lalu mengambil roti yang telah diberikan kepadanya dan memberikannya kepada orang yang tidak mendapat bahagian tadi. Sedangkan keesokan harinya, orang yang bertaubat itu meninggal dunia.

Di hadapan Allah, maka ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang yang bertaubat itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh malam. Ternyata hasil dari timbangan tersebut, amal ibadat yang dilakukan selama tujuh puluh tahun itu dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh malam. Akan tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama tujuh malam itu ditimbang dengan sebuku roti yang pernah diberikannya kepada fakir miskin yang sangat memerlukannya, ternyata amal sebuku roti tersebut dapat mengalahkan perbuatan dosanya selama tujuh malam itu. Kepada anaknya Abu Musa berkata: “Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sebuku roti itu!”

Oleh: smpplusdarussurur | 09/05/2009

Sebenarnya apa yang dimau ?

Tak ada satupun didunia ini yang patut dijadikan bahan pertimbangan kecuali Agama Islam, Islam yang begitu sempurna dalam setiap aturan hidup manusia. Namun sedikit sekali manusia yang menggunakan agama sebagai alat ukur. Agama itu masuk akal, tetapi ada wilayah yang tidak bisa dipetakan oleh akal. Islam adalah paling tingginya nilai kesempurnaan, kesempurnaan dalam kecerdasan emosional, intelektual dan kecerdasan spiritual. Kecerdasan emosional adalah kemampuan bertutur, beraksi, (sosialisasi) dan berbudaya,  dalam kehidupan, intelektual adalah  modal bersosialiasi dan beraksi sedangkan kecerdasan spritual adalah semua kendali diantara keduanya. Sehingga agama adalah seluruh energi bagian dalam kehidupan, maka akan melahirkan kemampuan secara holistik dan menyeluruh dalam kehidupan ; agama bukan hanya ada di masjid dan majlis ta;lim akan tetapi ada didalam segala sisi,  Emosional saja akan melahirkan pribadi  yang kaku bahkan men-isolasi diri, tidak merespon sesuatu yang belum diyakininya dan cenderung pasif, intelektual saja hanya akan melahirkan kekeringan jiwa. Seorang pribadi muslim wujudnya harus memiliki tiga kecerdasan (emosional, spritual, intelektual) terutama dalam rangka menyebarluaskan syiar dalam kondisi sekarang ini. Kondisi mengaji harus dikondisikan diberbagai situasi dan kondisi, sehingga agama mewarnai berbagai sisi kehidupan.

Oleh: smpplusdarussurur | 09/05/2009

Mp3Raid music code

Oleh: smpplusdarussurur | 08/19/2009

Selamat jalan Al Arif Billah

Kami seakan tak percaya, buya kini sudah tiada disamping kita yang selalu dan senantiasa membimbing kita dengan nafas-nafas illahiyyah dan nababiyyah. Buya kini sudah menghadap robbulijjati menghadap pemilik dan penguasa semua alam, yang tertinggal  adalah ajaran-ajarannya merupakan warisan yang paling berharga bagi kita, semoga Allah SWT mensucikan ruh beliau,  dengan menempatkan dalam setinggi-tingginya derajat amiin, isak tangis tidak cukup sebagai bukti kecintaan kita, tapi apa yang bisa kita lakukan dari apa yang telah beliau wariskan pada kita. Buya meninggalkan banyak kebanggaan dan kita tidak hanya cukup bangga tapi apa yang akan kita lakukan sebagai tindak lanjut kecintaan kita terhadap beliau.

Oleh: smpplusdarussurur | 05/04/2009

Forum tanya jawab

Pendekatan TeoriX dan Y

Teori X dan Teori Y yang dikembangkan oleh Douglas McGregor (1985). Pada teori X diasumsikan bahwa:

(1)     Manusia pada dasarnya tidak suka bekerja, dan bila mungkin akan menghindari pekerjaan;

(2)     Karena sifat manusia tidak suka bekerja, maka kebanyakan manusia harus dipaksa, dikontrol, diancam dengan hukuman agar mereka mau berusaha mencapai sasaran organisasi;

(3)     Pada umumnya manusia lebih suka diarahkan, ingin menghindari tanggung jawab, memiliki sedikit ambisi, dan menginginkan keamanan lebih dari segalanya.

Sedangkan Teori Y menjelaskan bahwa manajemen perusahaan mulai mengadopsi nilai-nilai yang lebih manusiawi dengan perlakuan lebih sederajat dan lebih murah hati terhadap karyawannya. Perubahan ini menimbulkan asumsi yang lain mengenai manusia. Jadi dimensi teori Y adalah:

(1)    Keluarnya tenaga fisik dan mental dalam bekerja adalah sama seperti bermain atau beristirahat;

(2)    Control eksternal dan ancaman hukuman bukan merupakan satu-satunya cara untuk membangkitkan usaha karyawan (kinerja) bagi pencapaian sasaran organisasi,

Pada dasarnya agama Islam Allah turunkan demi terpelihara dan terjaganya 6 (enam) perkara:
1. Agama (akidah dan syari’ah)
2. Nyawa
3. Garis nasab (keturunan)
4. Harta
5. Kehormatan/ harga diri
6. Akal.
Atas perusakan terhadap salah satu dari 6 (enam) perkara tersebut
(murtad, meninggalkan shalat fardlu, membunuh tanpa hak, berzina, mencuri, mencemarkan nama baik, dan minum arak/ minuman yang memabukkan)
terbitlah syari’at “hadd”, yakni sanksi yang Allah dan Rasul-Nya tentukan secara pasti.
Jika terjadi ketidakjelasan aksi kejahatannya atau terdapat ketidaklengkapan syarat-syaratnya maka gugurlah “hadd” itu.
Namun jika pakar-pakar dalam ruang lingkup humaniora-atas nuraninya-melihat perlunya tindakan yang membuat efek jera maka agama mempersilahkan pemerintah membuat undang-undang pidana tambahan. Ini yang lazim disebut “Ta’zir”. Asal tidak setingkat apalagi lebih berat dari hukuman “Hadd”.
Lihat kitab “Syarah Riya_dlul badi_’ah” hal 13

Older Posts »

Kategori